AMBON — Perkumpulan Pengembang dan Pelestari Kearifan Lokal Bumi Indonesia Jaya (P3 KLBIJ) mendorong masyarakat untuk berani mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal. Upaya tersebut dinilai penting untuk menciptakan pelaku usaha yang berkualitas, kreatif, mandiri, dan mampu bersaing.
Hal itu disampaikan Ketua Umum P3 KLBIJ, Dr. (Cand.) Yashmin Seif, SH., MBA., AEST., DIPL., M.Kn., saat menjadi narasumber dalam program “Mozaik Indonesia – UMKM Berbicara” yang disiarkan RRI Ambon melalui Programa 1, Senin (10/8/2026).
Mengangkat tema “Bersama Menuju UMKM Berkualitas dan Berdaya Saing”, kegiatan tersebut membahas berbagai upaya pengembangan UMKM dengan memanfaatkan kekayaan alam dan kearifan lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Yashmin mengatakan, masyarakat sebenarnya memiliki banyak potensi yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya melalui pengembangan makanan berbahan lokal seperti keripik pisang yang dipadukan dengan daun kelor.
“Kami yakin ibu-ibu sudah jago membuat keripik. Tetapi kami memberikan tambahan inovasi dengan menggunakan daun kelor,” kata Yashmin.
Menurutnya, pemanfaatan daun kelor bukan hanya memberikan inovasi pada produk makanan, tetapi juga menjadi salah satu upaya memperkenalkan bahan pangan lokal yang memiliki nilai tambah.
Dalam kegiatan tersebut, Yashmin didampingi Michael Maliholo yang memberikan pelatihan praktik pembuatan keripik pisang daun kelor. Sementara itu, Rosari dari Pekanbaru yang memiliki latar belakang medis turut memberikan edukasi mengenai aspek kesehatan.
Yashmin menjelaskan, pelatihan yang digagas P3 KLBIJ tidak hanya ditujukan kepada pelaku UMKM yang sudah menjalankan usaha, tetapi juga menyasar masyarakat yang belum berani memulai usaha.
Kelompok yang menjadi perhatian antara lain ibu rumah tangga, anak muda, remaja, penyandang disabilitas, hingga anak-anak yang tergabung dalam komunitas bank sampah.
“Kami ingin mengajak masyarakat agar tidak takut berwirausaha. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, kemudian dikembangkan dengan kreativitas dan inovasi,” ujarnya.
Menjangkau Peserta hingga Mancanegara
Antusiasme terhadap kegiatan P3 KLBIJ juga terlihat melalui siaran langsung di akun TikTok Bumi Indonesia Jaya. Siaran dari Studio Programa 1 RRI Ambon tersebut diikuti tidak hanya oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga warganet dari sejumlah negara seperti Jepang, Selandia Baru, dan Swiss.
Bahkan, menurut Yashmin, sejumlah peserta dari provinsi lain menyampaikan keinginan agar kegiatan pelatihan serupa dapat dilaksanakan di daerah mereka.
“Sebagai ketua umum, saya sangat bangga karena kegiatan sederhana ini ternyata memberikan dampak yang besar,” katanya.
Ia menilai, tingginya respons masyarakat menjadi motivasi bagi P3 KLBIJ untuk terus menggelar pelatihan secara gratis sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Selain keterampilan produksi, P3 KLBIJ juga berupaya memberikan pemahaman mengenai pengemasan, pengolahan secara higienis, serta standar produk. Untuk itu, organisasi tersebut berencana membangun kerja sama dengan pihak terkait, termasuk BPOM, guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM.
Maluku Didorong Menjadi Pusat Pengembangan Kearifan Lokal
Yashmin mengungkapkan, meski baru terbentuk sekitar tiga minggu, P3 KLBIJ telah menyelesaikan visi dan misi organisasi serta tengah memproses Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Organisasi tersebut juga tengah mempersiapkan pengesahan melalui akta notaris dan berencana menjadikan Maluku sebagai kantor pusat.
P3 KLBIJ menargetkan pembentukan kepengurusan daerah di 38 provinsi di Indonesia. Saat ini, kepengurusan telah terbentuk di sejumlah daerah, antara lain Nusa Tenggara Timur, Riau, Bali, Sulawesi Utara, dan Jawa Tengah.
Yashmin berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Maluku, dapat bersinergi dalam mengembangkan UMKM berbasis kearifan lokal.
Menurutnya, kekayaan budaya dan sumber daya alam Maluku memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Salah satu gagasan yang didorong adalah menampilkan produk kerajinan dan makanan tradisional Maluku di ruang-ruang strategis, termasuk bandara, sehingga dapat menjadi bagian dari promosi daerah dan daya tarik bagi wisatawan.
“Kita bisa memulai dari hal sederhana, misalnya menggunakan pakaian atau aksesori yang memiliki sentuhan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Dari situ kita ikut membangkitkan produksi kerajinan dan kearifan lokal yang ada di bumi Indonesia,” jelasnya.
Tak Hanya Kuliner
P3 KLBIJ, kata Yashmin, tidak membatasi pengembangan usaha hanya pada makanan dan minuman. Organisasi tersebut juga mendorong pemanfaatan tanaman lokal untuk berbagai produk, seperti minuman tradisional berbahan tanaman obat, aromaterapi, sabun mandi, produk kecantikan, produk kesehatan, hingga kerajinan tangan dan peralatan olahraga.
Ia menilai alam Indonesia telah menyediakan berbagai sumber daya yang dapat menjadi peluang ekonomi apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
“Alam sebenarnya sudah menciptakan lapangan pekerjaan untuk kita. Hanya saja sering kali kita yang belum melihatnya,” tegas Yashmin.
P3 KLBIJ juga berencana memperluas program pelatihan ke berbagai kelompok masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan keterampilan dan bekal kewirausahaan kepada warga binaan agar memiliki peluang ekonomi setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Yashmin menegaskan, pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat harus berjalan bersama untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan.
“Dengan bergandengan tangan dan hati yang tulus, kita bisa membangun masyarakat yang memiliki kemauan dan semangat untuk saling berbagi keilmuan demi kemajuan bersama,” pungkasnya.
Melalui gerakan tersebut, P3 KLBIJ berharap potensi lokal tidak hanya menjadi kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi baru yang membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, serta mengangkat nama Maluku dan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. tasya. p





















