Wakil WaliKota Ambon: Waisak Momentum Perkuat Toleransi.

Ambon18 views

Anis : Kita Tidak Sendiri , Tjoa Perdamaian Bukan Sekedar Slogan..

Ambon, Demokrasi Maluku ; Pemerintah Kota Ambon menegaskan komitmennya dalam menjaga kerukunan antar umat beragama melalui perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026.

http://demokrasimaluku.com/wp-content/uploads/2024/08/20240817_081242-6.jpg

Hal itu disampaikan oleh Wakil Wali Kota Ambon , Ely Toisuta saat menghadiri Open House dan Ramah Tamah Waisak yang berlangsung Minggu (31/05/2026) di Vihara Swarna Giri Tirta , jln perumtel gGunung Nona , Kecamatan Nusaniwe , Kota Ambon.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota mengucapkan selamat Hari Raya Waisak kepada seluruh umat Buddha di Kota Ambon dan Provinsi Maluku. Ia berharap perayaan Waisak menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, mempererat tali persaudaraan, serta menumbuhkan semangat toleransi di tengah keberagaman masyarakat.

“Perayaan Tri Suci Waisak mengingatkan kita pada tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran Pangeran Siddharta Gautama, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana.

Ketiga peristiwa ini mengajarkan nilai-nilai luhur berupa kebijaksanaan, cinta kasih, welas asih, dan perdamaian yang sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, Waisak bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan simbol keterbukaan dan kebersamaan yang menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan.


Pada kesempatan tersebut, Ely Toisuta juga menyampaikan kabar membanggakan bahwa Kota Ambon resmi masuk dalam 10 Kota Paling Toleran di Indonesia berdasarkan penilaian yang diumumkan pada 22 April 2026.

“Pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga warga Ambon yang setiap hari menjaga dan merawat kerukunan,” katanya.

Ia menilai pelaksanaan Open House Waisak menjadi bukti nyata semangat toleransi yang hidup di Kota Ambon. Ketika umat Buddha membuka ruang perjumpaan dan mengundang masyarakat lintas agama untuk merayakan hari sucinya bersama, itulah bentuk toleransi yang sesungguhnya.

“Toleransi bukan hanya slogan atau tulisan di atas kertas, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata, dalam kebersamaan, dan dalam rasa saling menghormati. Open House Waisak ini menjadi contoh indah bagaimana keberagaman dirawat dengan penuh kasih dan persaudaraan,” tegasnya.

Pemerintah Kota Ambon, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai kegiatan keagamaan yang bersifat inklusif dan memperkuat persatuan masyarakat. Sebab, kerukunan antar umat beragama merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Ambon yang damai, adil, maju, dan sejahtera.

Menutup sambutannya, Wali Kota kembali mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE Tahun 2026 kepada seluruh umat Buddha di Kota Ambon dan Provinsi Maluku.
“Semoga nilai-nilai kebijaksanaan, cinta kasih, dan perdamaian senantiasa menerangi langkah kita bersama dalam membangun Kota Ambon yang harmonis dan penuh persaudaraan,” demikian Toisuta .

Pada kesempatan yang sama Pembimbing Umat Bhudha Kantor Kementrian Agama Provinsi Maluku Anis Purwaningrum
mengemukakan , rasa bersyukurnya atas perayaan Waisak ditahun 2070 BE/ 2026 , dimana perayaan kali ini, umat Bhudha tidak sendiri tapi umat Bhudha di Kota Ambon dan Provinsi Maluku, ada ditengah-tengah masyarakat yang berbeda keyakinan.

” Hari ini kita merasa bahwa kita tak sendiri, tapi kita bersama-sama dengan seluruh umat dari berbagai agama yang ada di Kota Ambon, dalam rangka merayakan Perayaan Tri Suci Waisak, demikian Anis.

Abis mengatakan, Perayaan Tri Suci Waisak tahun ini mengusung Tema ; Menjaga Perdamaian Dunia yang berarti bahwa kita mesti hidup dengan damai antara satu dengan lainnya, dari lingkup terkecil yakni keluarga hingga lingkup yang paling besar, agar terciptanya perdamaian dunia.

Perdamaian Bukan Sekedar Slogan

Sementara Ketua Umat Budha Provinsi Maluku Ny. Alin Tjoa menyoroti terkait Tema Perayaan Waisak Tahun ini yakni Menjaga Perdamaian dunia.

Perdamaian ini , terkadang menjadi sesuatu yang jauh , tapi jika tidak ada yang mendobrak , melanggar aturan-aturan, moral dan etika, maka perdamaian itu bukanlah sesuatu yang jauh.

Saat ini memang perang dimana-mana dibelahan dunia ini, namun kami di Maluku yang beragam , bisa menunjukkan bahwa keharmonisan itu tetap ada .

Didalam ajaran Bhudha kami mengenal adanya SILA. Sila itu semacam aturan moral , bagi kita umat Bhudha,bagi semua manusia yang merupakan pelindung bagi kita di dalam bermasyarakat. Cuma memang, uniknya di ajaran Bhudha itu , SILA atau aturan-aturan moral yang merupakan sesuatu perintah yang kaku atau yang harus dilakukan tapi lebih pada pemahaman kesadaran .

Tapi ada juga hili dan otapa yaitu rasa malu dan rasa takut untuk berbuat hal yang tidak benar. Itu yang jadi dasar bagi kami umat Bhudha. Dan apabila kita berpegang teguh pada hili dan Otapa maka perdamaian itu bukanlah satu slogan .
Dharma dalam ajaran Bhudha menjunjung tinggi yang namanya welas asih, jadi jika kita itu tidak mendukung yang namanya ketidakbenaran , tidak terbelenggu pada ketidakadilan dan tidak melakukan atau terlibat pada manipulatif sebenarnya kita berkontribusi besar dalam menciptakan perdamaian .

Keberagaman yang hadir saat ini dari berbagai agama dan institusi ini menunjukan bahwa perdamaian ini bukan sesuatu terompet tapi ini menunjukan bahwa perdamaian dapat kita bangun bersama . Terima kasih atas kebersamaan ini.

Dia menyatakan, saat ini terjadi perang di mana-mana di belahan dunia, karena itu tema ini diangkat guna mengingatkan kita semua bahwa perdamaian itu penting, perdamaian itu membawa kebahagiaan, demikian Tjoa.

Hadir dalam ramah tamah tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, By.Maya Baby Rampen Lewerissa, Kepala Kebang Pol Provinsi Maluku, Danny Indey, Wakil Walikota Ambon dan beberapa Kepala OPD Lingkup Pemprov, Umat Bhudha dan umat beragama lainnya. (Ritta Erlina Lekatompessy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *