Catatan Kritis untuk Jembatan Waitomu*
Oleh : Pattrick Rumtily.
Proyek Jembatan Waitomu di Kota Ambon yang digagas Kodam XV/Pattimura adalah niat baik. Kita semua ingin UMKM tertata dan kota indah. Namun niat baik saja tidak cukup jika lokasinya salah: membangun gedung parkir dan garasi di atas badan sungai.
Secara sosial, proyek ini menimbulkan preseden buruk. Hari ini institusi negara membangun di atas sungai, besok warga akan ikut membangun. Akhirnya sungai menyempit, banjir datang, yang disalahkan adalah alam. Padahal alam hanya mengembalikan apa yang kita tutup.
Secara ilmiah, ini berbahaya untuk Ambon. Kali Waitomu adalah muara. Setiap tiang dan lantai yang menutup sungai akan mengurangi luas aliran. Akibatnya air meluap ke hulu saat hujan deras, sampah menumpuk di muara, dan ekosistem air payau rusak. Aturan PUPR sudah jelas: sempadan sungai 10-15 meter dalam kota wajib kosong untuk banjir dan akses alat berat.
Pengabdian untuk negeri yang paling tinggi adalah pengabdian yang patuh pada ilmu dan aturan. Kodam sudah menunjukkan kepedulian, sekarang tinggal melengkapinya dengan kajian lingkungan dan izin dari BWS serta DLH.
Solusinya sederhana: geser bangunan ke samping sungai, bukan di atasnya. Jadikan konsep _riverfront_, bukan _river-cover_. UMKM tetap dapat tempat, sungai tetap dapat napas.
Jika ini dilakukan, Waitomu bukan hanya jadi jembatan, tapi jadi contoh bagaimana tentara dan rakyat bersama-sama menjaga kota, bukan hanya membangunnya
















