Oleh : Pattrick Rumtily.
Dari Perkumpulan Kekeluargaan Menuju Kekuatan Daerah
Puluhan tahun lamanya, Pemaskebar (Perkumpulan Masyarakat Kepulauan Babar) hidup sebagai ikatan kekeluargaan. Ia dirawat oleh kerinduan orang Babar di perantauan pada kampung halaman, dibalut dan digerakkan oleh nilai budaya dan kasih, ibadah bersama, dan gotong royong saat duka maupun sukacita. Kini ikatan itu menapaki babak baru. Pemaskebar telah menjadi organisasi resmi yang memenuhi ketentuan hukum, dan pada September 2026 ia menyelenggarakan Konferensi Nasional untuk pertama kalinya, dan menghasilkan beberapa keputusan dan rekomendasi, dimana Prof J. W. Mosse sebagai ketua umum dan bpk, R Kelobora sebagai sekjen tetap sebagai nahkoda bagi kapal besar Pemaskebar. Bagi saya, ini lebih dari sekadar agenda organisasi. Ini titik balik yang patut dicatat.
Makna Sebuah Legalitas.
Legalitas sering dianggap urusan administratif. Padahal di dalamnya ada hal yang jauh lebih penting: pengakuan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk bertindak serta pengakuan negara, sehingga Organisasi yang sah secara hukum dapat bermitra dengan pemerintah, bernegosiasi dengan pihak swasta, dan mengelola dukungan secara akuntabel. Organisasi yang hanya mengandalkan ikatan emosional akan sulit melakukan semua itu. Konferensi Nasional pertama menunjukkan bahwa orang Babar, di mana pun berada, sepakat untuk bersuara dalam satu rumah besar.
Peluang Besar dari Blok Masela.
Maluku sedang berada di bawah sorotan nasional. Pengembangan Blok Masela, lapangan gas abadi di perairan selatan Maluku, dan peluang sektor migas lainnya menjanjikan investasi besar, lapangan kerja, serta pendapatan daerah. Kepulauan Babar terletak di kawasan yang berada di wilayah Propinsi Maluku, lebih khusus di daerah kabupaten Maluku Barat Daya sehingga kami anak kepulauan Babar tidak boleh menjadi penonton.
Pengalaman di banyak daerah penghasil sumber daya menunjukkan satu pola yang berulang. Kekayaan alam tidak otomatis menyejahterakan masyarakat setempat. Tanpa kesiapan, manfaatnya mengalir ke luar, sementara yang tinggal di daerah hanya menanggung dampak lingkungan dan sosialnya. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia adalah syarat utama bagi masyarakat Kepulauan Babar, jika ingin terlibat dalam aktifitas ekonomi Block Masela. Pemaskebar dapat mengambil peran di sini, misalnya lewat beasiswa, pelatihan keterampilan teknis, pendampingan usaha lokal, dan advokasi agar anak-anak Babar menjadi pelaku, bukan hanya penonton.
Tantangan dari Luar.
Tantangan dari luar yang paling nyata adalah kepentingan yang berebut pengaruh begitu peluang ekonomi membesar. Organisasi masyarakat kerap didekati, dimanfaatkan, atau bahkan dipecah demi kepentingan sesaat. Ada pula ketimpangan informasi: masyarakat sering terlambat mengetahui keputusan yang menyangkut tanah, laut, dan masa depan mereka. Pemaskebar perlu memiliki kemampuan membaca regulasi, menelaah dokumen perizinan, dan bernegosiasi secara cerdas serta bermartabat.
Tantangan dari Dalam.
Tantangan dari dalam sering lebih berat. Beberapa di antaranya:
Konsolidasi. Menyatukan pengurus dan anggota di berbagai kota dengan latar belakang beragam bukan pekerjaan mudah.
Kaderisasi. Organisasi yang bergantung pada generasi lama akan kehilangan arah. Anak muda Babar harus diberi ruang untuk memimpin. Sudah tentu dengan semangat dan kemampuan baru yang tidak keluar dari nilai nilai kehidupan Masyarakat Kepulauan Babar yang kita kenal dengan “Nyolie lete”
Tata kelola. Keterbukaan soal keuangan dan pengambilan keputusan adalah fondasi kepercayaan.
Godaan politik praktis. Organisasi masyarakat harus tetap menjadi rumah bersama, bukan kendaraan kepentingan kelompok tertentu.
Peluang besar sering membawa perpecahan jika tidak dikelola dengan kedewasaan. Pemaskebar harus dewasa dan harus berani menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Harapan ke Depan
Beberapa langkah yang menurut saya layak diprioritaskan pascakonferensi adalah : menyusun rencana strategis lima tahun, membangun pusat data tentang potensi dan kebutuhan masyarakat Babar, memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan, serta menyiapkan program kesiapan menghadapi industri migas. Semua ini perlu dijalankan dengan prinsip yang sama, yaitu bekerja untuk kepentingan bersama yang tetap didalam satu nilai yang tinggi yaitu Nyolie lete tersebut.
Konferensi Nasional hanyalah awal. Keputusan yang dihasilkan baru bermakna jika diwujudkan dalam kerja nyata. Masyarakat Babar punya modal berharga berupa solidaritas, daya tahan orang pulau, dan semangat merantau yang telah teruji lintas generasi. Jika modal itu dipadukan dengan tata kelola yang baik dan visi yang jelas, Pemaskebar dapat menjadi kekuatan yang disegani, dan menjadi contoh bagaimana masyarakat adat dan perantauan ikut menentukan arah pembangunan Maluku.
Peluang besar tidak datang dua kali. Kini saatnya Pemaskebar membuktikan bahwa ia siap.
(Penulis : Pattrick Rumtily).




















