Rauf : Sumpah Pocong,Yasin Fadilah & Rajam Harus Diberlakukan
Ambon, Demokrasi Maluku ; Pemerintah ,TNI-Polri,Tokoh adat,tokoh Pemuda, Tokoh Agama dan Masyarakat mesti bersatu padu mencari formula atau konsep untuk selesaikan konflik secara paripurna ditanah Maluku.
Rauf Pellu, Tokoh masyarakat berlatar belakang pendidikan Hukum lulusan Unidar Ambon mengemukakan, selama ini pemerintah dan unsur terkait telah berusaha keras guna menghentikan kekerasan/konflik yang terus berulang di Provinsi seribu Pulau, negeri raja-raja namun semua seolah- olah membuang garam ke dalam laut.
Menurut Rauf Hukum Positif Yach , tetap berjalan tapi untuk mempertegas hukum positif dan efek jera harus ada hukum yang lebih tegas untuk itu. Menurutnya hukum adat dan hukum agama harus dilakukan bersamaan.
Hukum yang dimaksud kalau di agama muslim adalah sumpah pocong, baca Yasin Fadilah supaya yang berbuat langsung kena bahala, kalau kita tak tegakan hukum agama dan adat maka mereka akan tetap berbuat,hukum adat misalnya sumpah adat makan siri pinang sambil bersumpah atau sumpah di batu pamali, siapa yang melanggar Yach terima akibatnya, dead .
Ditambahkan, sulit dihentikan hanya dengan hukum positif, Maluku dari sisi keamanan ibarat api dalam sekam, sedikit saja tersentuh terbakar .
Sejumlah edukasi dilakukan oleh banyak pihak, pemerintah , Mesdjid, gereja, NGo-NGo tapi seolah tak ada hasil paripurna, tak tuntas hanya sebagai peredam sesaat , tiba-tiba meledak lagi .
“Semua pihak di Maluku ini harus berani ambil sikap tegas dengan formula yang membuat efek jera bagi orang yang suka bikin konflik, supaya tak berani lagi orang bikin konflik. Kalau di Aceh syariat Islam Yach, potong tangan, potong kaki atau dirajam sampai mati”.
“Ini mesti dipikirkan oleh kita semua”_.
Mungkin usulan sumpah pocong, baca Yasin Fadilah atau rajam sampai mati di muslim, imterasa ekstrim tapi kalau kita mau paripurna penyelesaian konflik secara total ini harus kita lakukan .
Karena setiap konflik ujung-ujungnya pemerintah yang jadi Sasaran ,aparat kepolisian jadi sasaran, tidak tegas,penegakan hukum tidak tuntas,bantuan terlambat dan lain sebagainya
“Beta mau bilang ,jangan salahkan pemerintah kalau saat ini Maluku tak pernah damai paripurna, karena terlalu banyak yang pemerintah buat dari zaman konflik1999 hingga hari ini, kesepakatan damai, lah, perjanjian Maluku di Malino lah tapi tak pernah habis letupan- letupan kecil yang selalu berulang”.
“Kalau di Kristen Protestan dan Katolik, beta seng tahu istilah apa , tapi di Muslim sumpah pocong dan baca Yasin Fadilah atau rajam bagi orang yang berbuat kekacauan , “ujar Rauf .
“Sekali lagi Beta mau bilang, terlalu ekstrim tapi kalau tak tegas seperti ini, baru saja kemarin di Patahuew Seram Bagian Barat (SBB), Beta lihat kesaksian orang yang rumahnya terbakar,beliau katakan,beliau tidak dendam, Beta lihat beta Aer mata tumpah,korban harta benda habis, tapi tidak dendam, ini sikap yang sangat luar biasa, tapi apakan kita mau tetap biarkan ini terus terjadi), kanapa beta (saya) bilang harus tegas seperti ini, agar konflik ini bisa berhenti, ada efek jera, kalau semua aman damai, tentram investor bisa masuk untuk berinvestasi di Maluku, ada banyak tenaga kerja yang bisa terserap, ujar Rauf menutup pembicaraannya. (Ritta.E Lekatompessy ,SP)













