Tangerang-Banten ,Demokrasi Maluku ; Pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) yang merupakan program pemerintah pusat tak berjalan sebagaimana diharapkan, pasalnya di Maluku pada beberapa kabupaten terkendala masalah lahan untuk pembagunan Kantor dan Gerai KMP.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Buru Selatan Abdul Muntalib Tuahuns kepada awak media di sela-sela Expo APKASI 2026, yang digelar di hall 3-3A Bumi Setpong Damai (BSI),Kamis (37/08/2026) mengemukakan, Hingga saat ini yangmenjafi kendala di kabupaten Buru Selatan adalah masalah lahan .
Sebagaimana diketahui bersama laha-lahan yang ada di Maluku sebagian besar adalah lahan adat karena itu ketika pemkab membutuhkan lahan untuk pbangunan, ada banyak kendala yang ditemui . Ada keluarga yang dengan sukarelaenghibahkan lahannya , namun ada keluarga yang tidak mau,sehingga banyak terjadi konflik di tengah-tengah keluarga pemilik lahan,belum lagi masyarakat mengganggap kalau proyek pemerintah pasti=ada uangnya.
Nah dari persoalan-persoalan yang dihadapi Pemkab sudah berupaya untuk mengkomunikasikan dengan masyarakat terkait hibah lahan untuk pebangunan KPM didalamnya kantor dan getai termasuk gudang.
“Jadi dari 81 desa yang ada di Bursel sudah 32 desa yang lahannya oke, namun prmbangunannya hingga kini baru 6 (enam) KMP, yang dibangun oleh PT. Agrinas, itupun seluruhnya belum rampung, yang sudah rampung hanya pada dua (2) Kecamatan yakni Namrole dan Wamsisi, sedangkan empat (4) yakni Kecamatan yakni Ambalauw,Kepala Madan ,
Fenafafan dan Leksula terkendala pada ongkos transport bahan yang cukup besar dan juga tenaga pengelasan . Tenaga pengelasan berasal dari Namlea, jadi menunggu hingga Namlea selesai baru bisa para tenaga pengelasan bergeser ke Bursel”.
“Kita tidak berani menargetkan kapan rampung pekerjaannya , karena bergantung sekali pada tenaga kerjanya. Kalau tenaga kerjanya ditambah mungkin bisa cepat namun kalau tidak maka Busel terpaksa menunggu” .
“Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak Argtonas dan juga Kementrian terkait kenfala-kendala yang dihadapi agar semua nya dapat berjalan, demikian Kadis . (Ritta.E. Lekatompessy ).






















