Maluku Go Global, Perikanan dan Rempah Jadi Magnet Investasi

nasional0 views

 

Cibubur, Demokrasi Maluku ; Pemerintah Provinsi Maluku terus membuka pintu investasi seluas-luasnya bagi dunia usaha dan investor internasional untuk menggarap potensi ekonomi daerah.

http://demokrasimaluku.com/wp-content/uploads/2024/08/20240817_081242-6.jpg

Komitmen tersebut ditegaskan Pemerintah Provinsi Maluku dalam Forum Harmony Indonesia 1881 yang berlangsung di Hotel Artotel Living World, Cibubur, Bogor, Selasa (18/8/2026).

Sambutan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LLM., yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Umar Alhabsy, menegaskan bahwa Maluku memiliki potensi strategis yang layak dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat nasional maupun global.

o

Forum yang digagas Africa, Asia Midle East Chamber of Cimmerce (AAMECC) Indonesia dengan tema “Sinergitas Global, Kearifan Lokal untuk Indonesia Emas” tersebut mempertemukan sejumlah tokoh nasional dan internasional, termasuk Ketua DPD RI, Deputi Otorita IKN, Deputi Bidang Polhukam Sekretariat Kabinet, Direktur Jenderal Kebudayaan, para raja, sultan dan pemimpin adat se-Nusantara, serta pelaku usaha dari Afrika, Asia dan Timur Tengah.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Maluku memperkenalkan karakter dan keunggulan daerah sebagai provinsi kepulauan yang menjadikan laut sebagai ruang hidup sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Maluku memiliki wilayah sekitar 712.498 kilometer persegi, dengan 93,5 persen merupakan perairan, terdiri dari 1.422 pulau dan garis pantai mencapai 10.914 kilometer.

Kondisi geografis tersebut menjadi modal besar dalam pengembangan ekonomi berbasis kelautan, pertanian, pariwisata dan energi terbarukan.

Empat Sektor Jadi Bidikan Investor
Pemprov Maluku menawarkan empat sektor utama yang dinilai memiliki prospek investasi besar.

Sektor pertama adalah kelautan dan perikanan. Potensi perikanan Maluku berada pada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP 714, 715 dan 718 yang mencakup Laut Banda, Laut Arafura dan Laut Seram.
Komoditas tuna, cakalang dan tongkol menjadi salah satu kekuatan utama Maluku. Namun, peluang investasi tidak hanya terbuka pada perikanan tangkap.
Potensi budidaya laut juga masih sangat luas, mencapai sekitar 158 ribu hektar, sementara pemanfaatannya baru sekitar 3.816 hektar.

“Peluang investasi terbuka pada sektor pengolahan, cold chain, pengalengan dan penerapan teknologi modern,” demikian disampaikan dalam paparan Pemerintah Provinsi Maluku.

Sektor kedua adalah pertanian dan modernisasi rempah. Identitas Maluku sebagai Kepulauan Rempah melalui komoditas pala dan cengkeh diarahkan tidak sekadar menjadi warisan sejarah, tetapi dikembangkan menjadi kekuatan industri bernilai tambah.

Penguatan standardisasi mutu, branding, hilirisasi dan pengembangan produk turunan diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta ekspor komoditas Maluku.

Sektor ketiga adalah pariwisata bahari dan cagar budaya. Destinasi seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ora, Ngurbloat, Ngurtafur dan Pulau Bair menjadi aset wisata yang memiliki daya tarik bagi pasar internasional.

Peluang investasi terbuka pada pembangunan akomodasi, transportasi antarpulau hingga pengembangan desa wisata.

Sementara sektor keempat adalah energi terbarukan. Karakteristik Maluku sebagai wilayah kepulauan membuka peluang besar bagi pengembangan energi mandiri berbasis tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, panas bumi hingga energi laut.

Proyek Strategis Didorong Jadi Mesin Ekonomi dalam materi yang disampaikan juga memaparkan sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari transformasi ekonomi Maluku, seperti pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub, pengembangan Pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta program hilirisasi pala dan kelapa.

Menurut isi paparan Gubernur yang disampaikan oleh Alhabsy, proyek-proyek tersebut harus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

“Jadi untuk proyek strategis tidak boleh berhenti sebagai proyek fisik semata, melainkan harus menjadi pengungkit terbentuknya rantai nilai, lapangan kerja baru, industri lokal, UMKM yang kuat, serta menghubungkan Maluku dengan pasar nasional maupun global,” tegasnya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku mengajak investor global membangun kemitraan yang inklusif dan berkelanjutan. Investasi diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui forum internasional tersebut, Maluku ingin menegaskan bahwa potensi daerah tidak lagi sekadar menjadi kekayaan alam yang belum tergarap, tetapi dapat ditransformasikan menjadi rantai ekonomi bernilai tinggi yang terhubung dengan pasar nasional dan global.
(Diskominfo Maluku)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *