Tokoh Masyarakat : Gubernur Hendrik Itu Jiwa Orang Ambon Tapi Rasa Wetar
Ambon Demokrasi Maluku ;
Para tokoh masyarakat Wetar Utara rame rame memuji sikap Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Pasalnya Lewerissa dianggap sukses meyakinkan Menteri Perhubungan RI dan jajarannya untuk segera membuka keterisolasian wilayah dan rentang kendali yang masih tinggi akibat sulitnya sarana transportasi laut di kecamatan Wetar Utara. Pujian sejumlah tokoh ini menyusul masuknya kembali KM Sabuk Nusantara 104 di pelabuhan desa Eray tepat di hari Senin saat perayaan Proklamasi 17 Agustus 2026. “Ini momentum bersejarah yang sekian purnama hilang. Jadi dengan sandarnya Km Sanus 104 di pelabuhan kami, kerinduan kami pun terobati,” ujar Kades Eray Lamberthus Managa sambil meneteskan air matanya. Dia menyatakan, salut dan bangga kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa atau yang biasa disapa HL. Betapa tidak. Ini sebuah prestasi yang mungkin kecil di mata orang lain tetapi besar bagi kami orang Wetar. Diakuinya, Gubernur HL adalah tipe pemimpin yang luar biasa yang ikut merasakan getaran kesulitan masyarakat Wetar. Dia lantas mengisahkan bahwa beberapa waktu lalu para tokoh masyarakat dari beberapa desa melayangkan surat kepada Gubernur HL tentang realitas yang dihadapi Kecamatan Wetar Utara yang jika dibiarkan terus akan mengakibatkan penderitaan masyarakat jadi parah. Dalam menghadapi situasi ini tentu dengan ikut mempertimbangkan aspek kemanusian warga Wetar,
Gubernur yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Maluku itu memerintahkan pihak Dinas Perhubungan Maluku menyurati Direktur Lalu Lintas Direktorat Jenderal Perhubungan Laut guna mencari solusinya. “Yang saya dengar Dinas Perhubungan Provinsi Maluku diperintahkan menyurati Kementerian. Tetapi secara substansi Pak Gubernur Hendrik yang melobi Pak Menteri dan Pak Dirjen,” Ujar Lamberthus sembari memberi apresiasi dan rasa terima kasihnya. Dikatakan, dengan sandarnya KM Sanus 104 di desa Eray, ada banyak manfaat yang terasakan. Minimal membuka konektivitas laut perintis, memperlancar mobilitas warga antar pulau serta mendistribusikan logistik dan sembako demi menekan disparitas harga di wilayah terluar dan terpencil seperti di Wetar Utara ini. Ia lantas mengakui bahwa selama ini masyarakatnya hidup dalam tekanan dan kesulitan yang tidaklah ringan. Karena itu, sambungnya, cuma visi dan misi politik pemimpin yang merakyat sajalah yang sanggup menjawab kesulitan yang amat sangat berat ini. Jadi tipe pemimpin dengan perspektif kemalukuan yang luas sajalah dapat menakar dan sanggup mengetahui suasana kebathinan warga.
“Makanya adalah benar kalau sejumlah tokoh masyarakat Wetar menilai Gubernur Hendrik adalah putra Lease tapi rasa orang Wetar. Kenapa tidak, sebab bagi saya beliau telah membuktikannya. “Sebab pemimpin itu sejatinya adalah pembuktian kata kata bukan retorika,” sahutnya.
Sejalan dengan Lamberthus, Pdt Deasy Tayanne, tokoh agama setempat menuturkan, bahwa sejak dihentikan rute KM Sanus 104 tahun lalu maka urat nadi kehidupan masyarakat berikut jemaat di Eray dan sekitarnya semakin terasa. Derita masyarakat tiada henti. Baik di sektor kesehatan, pendidikan, sosial ekonomi dan sebagainya kian lirih di tiap waktu dan kesempatan.”Karena itu ia berharap, ini awal yang baik untuk menggenapi harapan kami. “Kemanusiaan kami sudah lama tertekan. Semoga di moment HUT Proklamasi ke 81 Republik Indonesia ini, makna kemerdekaan itupun terasa juga di Wetar,” ujar Pdt Deasy.
Ditambahkannya, sukacita masyarakat dan jemaat disini seakan tak bisa terlukiskan. Sebab KM Sanus 104 yang kembali menyinggahi dermaga Eray adalah bukti pergumulan panjang yang dijawab. “Puji Tuhan Pak Gubernur Hendrik Lewerissa telah mencari jalan keluar dalam menjawab derita warga,” sebutnya sambil mengajak semua warga dan jemaat untuk bersyukur juga di usia ke -81 Provinsi Maluku, semoga di masa kepemimpinan Pak Gub dan Pak Wagub, mereka berdua bisa mengawal ketentraman dan keamanan di semua wilayah termasuk di Wetar agar KM Sanus 104 yang sudah ditetapkan lagi dalam melayari masyarakat di Kecamatan Wetar utara tidak dialihkan lagi. Lain penilaian Grace Hobataman. Kepala Puskesmas Desa Eray. Grace mengatakan dengan sandarnya KM Sanus 104, maka beban penderitaan masyarakat setidaknya bisa terkurangi karena warga di kecamatan ini bisa melakukan rujukan ke luar. Bisa dibayangkan kalau tidak ada KM Sanus 104, krisis kemanusisan kian nyata di sini. Pasien gawat darurat dan ibu melahirkan kehilangan rujukan aman ke rumah sakit luar pulau. “Kami sedih sekali selama beberapa kurun waktu ini, tapi puji Tuhan atas perhatian Bapak Gubernur Maluku persoalan kemanusiaan yang selama ini membelenggu dapat teratasi,” ujarnya. Ketika ditanya kesannya, Grace menyatakan bahwa kehidupan di pelosok bukan ancaman tetapi kebanggaan.
Sebab Maluku yang indah bukan cuma ada di ibukota Provinsi tetapi juga di kawasan ini. Maka dari itu dia berharap kepada setiap Pemimpin Daerah siapapun itu untuk tidak mengabaikan kemerdekaan warga Wetar yang jiwa dan hatinya merindu bagi Indonesia tanah tumpah darah. Sementara itu, Kadis Perhubungan Maluku Samuel Huwae yang dikonfirmasi media ini, kemarin, ikut bersyukur. Alasannya dengan dilayari kawasan itu oleh KM Sanus 104 setidaknya konektivitas antar pulau dalam rangka membuka keterisolasian wilayah terjawab, dengan begitu berbagai masalah yang terjadi dapat terselesaikan, minimal soal kebutuhan pokok warga tidak lagi menjadi masalah krusial. “Jadi Bapak Gubernur berharap dgn masuknya KM Sanus 104 di pelabuhan Eray maka tingkat kesulitan selama ini terpecahkan. Berikutnya gambaran transportasi publik yang murah dan terjangkau bagi masyarakat Wetar Utara tidaklah ibarat dalam mimpi. “Maka mari berdoa dan menjaga kedamaian, ciptakan lingkungan yang kondusif terutama dalam mendukung jiwa dan semangat UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran terlebih lagi Keputusan Dirjen Perla Nomor 618 Tahun 2025 tentang Penetapan Jaringan Trayek Penyelenggaraan Pelayaran Perintis Tahun Anggaran 2026,” ujar Huwae. Ia pun meniru pesan Gubernur dalam pidato HUT Provinsi Maluku ke 81 di depan Sidang Paripurna agar masyarakat Maluku di setiap level bisa mendukung dan berlaku ramah terhadap lingkungan sekitar, hindari miras dan perbuatan tak tercela lainnya.
Ini tentu terhadap mereka yang bekerja sebagai ABK. “Saya kira ini penting sebab jika ada keputusan Omisi lagi maka yang rugi adalah masyarakat itu sendiri,” harapnya. Dia mengingatkan pesan Gubernur HL bahwa kawasan 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Provinsi Maluku bukanlah sebuah kawasan yang berimpresi buruk melainkan wilayah dengan tantangan geografis dan kendala infrastruktur yang masih relatif tinggi, namun penuh pesona. Artinya di kawasan itu tersimpan potensi SDA dan SDM besar utamanya sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (***)





















