ICMI Maluku Gelar Seminar Nasional Pra-Muktamar VIII, Dorong Konektivitas dan Ketahanan Pangan di Wilayah Kepulauan

Politik4 views

 

ICMI Maluku Gelar Seminar Nasional Pra-Muktamar VIII, Dorong Konektivitas dan Ketahanan Pangan di Wilayah Kepulauan

http://demokrasimaluku.com/wp-content/uploads/2024/08/20240817_081242-6.jpg

KAIRATU, SBB — Menjelang pelaksanaan Muktamar VIII Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI Maluku menggelar Seminar Nasional Pra-Muktamar VIII Tahun 2026 di Kairatu Beach, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Jumat (7/8/2026).

Seminar nasional yang mengangkat tema “Membangun Konektivitas dan Memperkuat Ketahanan Pangan dalam Perspektif Provinsi Kepulauan” tersebut menjadi ruang strategis bagi para cendekiawan, pemerintah, akademisi, lembaga riset, serta pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan gagasan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik Maluku sebagai provinsi kepulauan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi adat dan kebudayaan Maluku melalui persembahan Tari Sawat. Tarian tradisional tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus penyambutan bagi para tamu VIP dan peserta seminar yang hadir.

Ketua Umum MPW ICMI Maluku, Dr. Ruslan H. S. Tawari, M.Si, dalam sambutannya yang disampaikan Bendahara Umum ICMI, Hj. Andi Irman Idris Pattiroy, SE., MM, menegaskan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari kontribusi nyata kaum cendekiawan dalam memberikan arah pembangunan daerah berbasis kepulauan.

Menurutnya, tantangan geografis Maluku membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menjamin ketersediaan pangan, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Bendahara Umum MPP ICMI, H. Andi Irman Patiroi, SE., MM, yang hadir mewakili Ketua Umum MPP ICMI, menyoroti pentingnya membangun sinergi di tingkat nasional dalam menghadapi tantangan logistik dan pangan di kawasan pesisir dan kepulauan.

Ia menilai, keterbatasan konektivitas dan tingginya biaya distribusi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya memperkuat ketahanan pangan di daerah kepulauan.

Resmi Dibuka dengan Pemukulan Tifa

Seminar nasional tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Seram Bagian Barat, Ir. Asri Arman, M.T., yang diwakili Kepala Dinas Pertanian SBB, La Ridin.

Dalam sambutan Bupati yang disampaikan La Ridin, ditegaskan bahwa kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan menuntut adanya inovasi kebijakan di sektor pertanian dan logistik.

Kebijakan tersebut, kata dia, harus mampu menyesuaikan diri dengan karakter wilayah sehingga pengelolaan sumber daya pangan dapat dilakukan secara efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pembukaan seminar kemudian ditandai dengan pemukulan tifa secara bersama-sama oleh Bupati SBB melalui perwakilannya, unsur MPP ICMI dan Ketua Umum MPW ICMI Maluku.

Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya rangkaian diskusi sekaligus penegasan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi cendekiawan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di Maluku.

Riset dan Inovasi Jadi Fondasi Ketahanan Pangan

Memasuki sesi utama, seminar dipandu Dr. Boim Kilkoda, Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Pattimura.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Yopi, S.Si., M.Si., Ph.D, serta Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku.

Pembahasan berlangsung interaktif dengan mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi daerah kepulauan, mulai dari konektivitas antarwilayah, distribusi pangan, produktivitas pertanian, hingga pentingnya riset dan inovasi dalam menentukan arah kebijakan.

Dari diskusi tersebut, para panelis dan peserta sepakat bahwa riset dan inovasi harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pertanian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kondisi geografis kepulauan.

Ketahanan pangan juga dinilai tidak dapat dibangun oleh pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, lembaga riset, dunia usaha, organisasi cendekiawan, serta masyarakat.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam memperkuat produksi pangan lokal, memperlancar distribusi, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Rekomendasi Dibawa ke Muktamar VIII ICMI

Seminar yang berlangsung sejak pukul 13.55 hingga 16.50 WIT itu menghasilkan sejumlah gagasan dan rekomendasi strategis yang akan menjadi bahan masukan dalam pelaksanaan Muktamar VIII ICMI mendatang.

Rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkuat perspektif pembangunan berbasis kepulauan, terutama dalam aspek konektivitas, ketahanan pangan, riset, inovasi, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada para narasumber dan sesi foto bersama seluruh peserta.

Dari Kairatu, para cendekiawan Maluku membawa satu pesan penting: ketahanan pangan di provinsi kepulauan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi membutuhkan konektivitas yang kuat, kebijakan yang berbasis riset, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut selanjutnya akan menjadi bagian dari kontribusi MPW ICMI Maluku dalam memberikan rekomendasi strategis bagi pembangunan daerah dan nasional melalui Muktamar VIII ICMI.tasya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *