Bertahun-tahun Upah Tak Naik Perempuan Pengupas Kulit Kerang Hijau di Cilincing Jakarta Mengaku Pasrah

nasional70 views
Link Banner

Ketika memasuki kawasan RT 009/01 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, ternyata masih terlihat sejumlah pohon bakau yang tumbuh ditepian pantai wilayah itu, sekalipun jumlahnya tidak banyak lagi, bahkan air laut ditempat tersebut begitu keruh dan berwarna kecoklatan.

Pohon bakau tersebut tumbuh tepat di belakang tempat Kremasi Umat Hindu Cilincing Jakarta Utara.

Dari belakang gedung kremasi terlihat sebuah jembatan kecil, tepat disebelah kanan ujung jembatan terlihat kawasan pemukiman warga.

Masuk lagi kurang lebih 75 meter ke arah laut , pemandangan kita tertuju pada para nelayan yang sementara menambatkan perahu, mereka baru saja kembali dari melaut.


Seorang ibu bersepada bersama cucunya menuju ke tempat tambatan perahu, dan ketika ditanya ibu tersebut mengakui sedang menjemput suaminya yang baru pulang mencari ikan .

Kepada awak media ibu Asminah mengakui kehidupannya bersama, suami bergantung dari hasil tangkapan ikan yang dicari suaminya setiap hari, selain itu untuk membantu suaminya, sewaktu-waktu dirinya juga mengupas kulit kerang hijau, dengan pendapatan antara Rp. 30.000-40.000 ribu per hari, ujar ibu asal Sulawesi Selatan ini.

Pendapatan suaminya rata-rata perhari antara Rp. 20.000-40.000 rupiah tergantung keadaan air laut kalau air laut keruh, suaminya hanya membawa pulang Rp. 20.000 harga 2 kg hasil tangkapan yang diperolehnya.

Suami Asminah mengemukakan, saat ini setelah dibangun talud/tanggul untuk mencari ikan, jaraknya sudah lebih jauh dari sebelum dibangunnya talud/tanggul penahan ombak.

Masih dikawasan tersebut Wagini, perempuan berusia 40 tahun, mengaku sejak pukul delapan (8) pagi usai mengerjakan pekerjaan rumah tangga dia sudah keluar untuk bekerja sebagai pengupas kulit kerang hingga magrib menyongsong.

Sejak pagi hingga magrib Wagini mengakui memperoleh pendapatan antara Rp. 70.000-100.000
Suaminya juga bekerja sebagai nelayan dengan pendapatan Rp.100.000.-150 .000.

Selain melaut, suaminya juga mengangkut kerang ke tempat pengusaha kerang, dengan upah enam ribu/karung, sehari paling banyak 10 karung berarti suaminya mendapatkan Rp. 60.000.

Wagini mengaku pendapatan yang diperoleh dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, anaknya dua (2) orang sudah bekerja dan dua (2) lagi masih bersekolah.

Wagini mengaku menekuni pekerjaan sudah cukup lama, sejak kecil karena, dia meupakan warga setempat.

Upah yang diperolehnya sudah bertahun- tahun seperti itu, tapi dirinya tetap bekerja . ‘ Mau gimana lagi, kalau tak bekerja berarti kita tak bisa makan,” katanya .

Wagini mengaku ruang gerak mereka sempit, dimana tambatan perahu bagi para nelayan sudah sangat sempit. ” Kami meminta kepada pemerintah untuk membuat tambahan perahu, dan saat ini sementara dibuat, “sambil. menunjuk tempat tambatan perahu yang sementara dikerjakan.

Ibu Kom Komariah juga mengaku sehari- hari bekerja sebagai pengupas kulit kerang.

Pendapatanya tergantung, kecepatan dia bekerja, namun biasanya dalam sehari, upahnya berkisar antara ,Rp. 30.000-40.000, dimana Komariah dapat menyelesaikan dua (2) – delapan (8) ember kulit kerang,. Untuk mendapatkan delapan ember dia bekerja sejak jam tiga (3) hingga jam lima (5 ) sore, terkadang hingga magrib, kalau hingga magrib pendapatan bisa lebih.

“Jadi dua ember upahnya Rp. 10.000″. Upah yang diterima ini sudah berlangsung cukup lama, kurang lebih enam atau tujuh tahun.

Pernah meminta kenaikan upah tapi tak bisa dinaikkan karena majikan mengatakan harga jual mereka juga tak naik2, tetap sama.

” Kami pasrah saja, karena kalau menolak dengan upah seperti itu, lalu kami mau cari kerja dimana lagi untuk kehidupan setiap hari”.

Suaminya bekerja sebagai nelayan, pendapatanya juga hampir sama yakni antara Rp. 20.000-50.000/hari. Kalau musim barat, pendapatan suami menurun, karena musim ombak, sehari paling Rp. 20-000

Anak saya tiga orang, semuanya lulus SMA, namun mereka bersekolah dengan bantuan pemerintah, karena pendapatan kami tak mencukupi untuk membiayai pendidikan anak-anak.
.
Suminah 63 tahun seorang single parents (orang tua tinggal) , memiliki sembilan (9 ) orang anak namun enam (6) orang meninggal tiga (3) orang anak yang masih hidup dan sudah berumah tangga, Suminah bahkan tak punya rumah sendiri, dia hidup mengikuti salah satu anaknya yang sudah berumah tangga.

Suminah bekerja tidak sehari penuh, paling tiga (3) hinga empat (4) jam tergantung kemampuannya. sekilo kerang yang dikupas Rp. 3.000. ” Saya biasanya mendapatkan Rp.30.000-Rp.40.000″.

“Cukup tak cukup, harus cukup untuk makan”

Kalau dikalkulasikan pendapatan keluarga pengupas kulit kerang dan nelayan tertinggi Rp. 350.000 per hari keluarga Ibu Wagini, dimana ibu Wagini dalam sebulan mendapatkan Rp. 10, 5 juta sedangkan yang lain rata-rata antara Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000 per hari, berarti dalam sebulan memperoleh antara Rp. 1,2 juta hingga Rp. 3 juta rupiah.

Sementara PDRB perkapita DKI Jakartaku uttaran tertinggi di Indonesia yakni per tahun Rp. 298,4 juta atau sebulan rata-rata Rp. 25 juta.

UMR Kota Jakarta Rp. 4,9 juta perbulan.

Artinya ada kesenjangan yang luar biasa terjadi di ibukota Jakarta, dimana masyarakat dan perempuan di Cilincing mengalami kemiskinan ekstrim.

Karena itu pemerintah DKI Jakarta harus mengulurkan tangan membantu, agar mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan yang sudah dialami sejak mereka lahir.

Jakarta, 30/10/2023, Peliputan Pelatihan Jurnalistik Feminis, Ketimpangan Ekonomi dan Ketidakadilan Gender

(Ritta.E.Lekatompessy, wartawan Demokrasi maluku. Com, )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *