Adik Kakak Nusamba Menyatu Dalam Syukur Natal

Link Banner

Pdt Gaszpers Nusahalawano-Ambalauw Ukir Sejarah Baru

Ambon, Demokrasi Maluku : Persekutuan ade kaka Nusalaut Ambalauw (Nusamba) di Kota dan Pulau Ambon memggelar syukuran natal bersama yang dirangkaikan dengan pelantikan dewan presidium Nusamba.

Kegiatan tersebut berlangsung di auditorium Universita Pattimura (Unpatti) Poka, Kecamatan Teluk Ambon-Kota Ambon Provinsi Maluku.

Sebelum acara dimulai para Latupatti dan raja dari 14 Negeri yakni tujuh (7) Negeri Nusalaut dan tujuh (7) Negeri Ambalauw juga Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena dibungkus dengan kain gandong dan di arak dari gerbang kanan kantor pusat Unpatti menuju tempat acara.

Diawali dengan acara syukuran natal, lantunan kidung-kidung natal dalam gerak dan nada menyemarakkan acara natal ade (adik) dan kaka (kakak) Nusahalawano( Nusalaut) dan Ambalauw.

Tak ada sedikitpun terlihat perbedaan diantara mereka, sekalipun dua orang ade-kaka memeluk agama yang berbeda.

Nusalaut (beragama Kristen), Ambalauw (beragama Islam) tapi mereka berasal dari satu rahim (kandung/gandong).
, namun pada waktu dulu, para leluhur mereka dipisahkan oleh masalah pohon sukun.

Menurut orang tatua ( orang tua-tua), awalnya kedua ade-kaka Nusalaut – Ambalauw hanya berasal dari satu pulau, namun karena masalah sukun mereka terpisah, Ambalauw terpisah dari kakaknya menjadi sebuah pulau dengan nama pulau Ambalauw, yang bentuknya sama persis seperti Pulau Nusalaut dengan tujuh negeri.

Pantauan Demokrasi Maluku.com, terlihat ade Ambalauw mengikuti acara syukur natal dari awal ibadah hingga selesai, tidak seperti lazimnya dimana orang muslim, hanya mengikuti acara pesan dan kesan natal saja, setelahbusai acara ibadah,

Pdt.Gazperzs dalam refleksi natal yang terbaca dari Lukas 2 : 8-20 mengatakan, hari ini kita melihat peristiwa unik, dimana dua orang ade-kaka tujuh (7) negeri Nusahalawano -7 (tujuh) negeri Ambalauw berbeda agama namun boleh duduk satu meja menyatu dari awal ibadah sampai usai acara.

Baca Juga  Sinergi BSN dengan Pemerintah Provinsi Maluku, Dorong Daya Saing INTIM

“Ini luar biasa, peristiwa seperti ini langka dan baru pernah terjadi” .

Kita semua di Ambon, di Maluku , di Indonesia, boleh belajar dari ade-kaka Nusahalawano-Ambalau (Nusamba),

Peristiwa malam ini mengukir sejarah baru, bahwa tak ada sekat apapun.tak ada perbedaan apapun.

Mereka (Nusahalawano-Ambalauw) menunjukkan kepada kita semua, inilah kita dengan identitas kita, ade – kaka, yang tak bisa dipisahkan oleh apapun, oleh siapapun dan dalam keadaan apapun.

“Kita ingin bersatu untuk masa depan anak cucu kita”.

Beta (saya) mau bilang jangan katong (kita) hanya tahu panggel ade atau kaka tapi seng (tidak) tahu nama, mulai hari ini kita harus tahu nama dan harus saling mengenal, supaya saling mendukung, saling menopang, katanya.

Pembacaan tadi, terlihat jelas ketika para gembala saling mengajak, dengan kata “marilah” kita pergi, ini haruslâ‚© jadi pegangan, jadi motivasi untuk kita semua.
“Marilah kita pergi bersama untuk menjumpai sesuatu yang baik,menjumpai kehidupan”.

Kalau para gembala pergi untuk melihat sang penyelamat Yesus Kristus, maka ade-kaka Nusamba pergi dan bersatu untuk sebuah kehidupan yang lebih baik ke depan.

Hari ini juga akan dilantik dewan presidium Nusamba, yang tentunya punya visi misi ke depan yang cemerlang demi untuk kepentingan dan kesejahteraan anak cucu Nusamba.

Wagub Maluku Drs.Barnabas Nataniel Orno dalam sambutannya, meminta agar ade-kaka Nusalaut Ambalauw, selain dapat menghimpun semua potensi anak cucu demi kepentingan dan kesejahteraan Nusamba.

Juga berharap agar Nusamba dapat berkontribusi untuk pembangunan Kota Ambon, pembangunan Maluku bahkan pembangunan bangsa.

Pelantikan dewan presidium diawali dengan lantunan lagu asal daerah Nusalaut seperti gandong ade dengan kaka, sapulu ampat (14) Di Parau (Di perahu).

Baca Juga  FGD Arah Pengembangan Pariwisata Maluku

Presidium Nusamba terdiri dari 14 orang yang newakili masing-masing negeri.

Pengukuhan dan pelantikan dilakukan oleh Latupatti yang diwakili oleh Frengki Leiwakabessy dan nyong Ali Loilattu.(D-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *