Oleh: Pattrick Rumtily -Warga MBD
Kesalahan kita selama ini adalah mengukur Blok Masela dari garis start, bukan dari garis finish.
Kita sibuk membicarakan angka investasi US$ 20,9 Miliar, 9,5 juta ton LNG per tahun, dan 12.000 tenaga kerja pada puncak konstruksi. Itu adalah angka start. Itu adalah janji. Keadilan ekonomi untuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) dan Maluku Barat Daya (MBD) tidak pernah bisa diukur dari seberapa besar uang yang masuk, tetapi dari seberapa besar hidup masyarakat yang berubah setelah gas itu keluar.
Jika kita ingin Masela adil, kita harus memulai cara berpikir dari akhir. Kita harus bertanya: 20 tahun setelah LNG pertama dikapalkan, seperti apa KKT dan MBD yang kita inginkan? Baru setelah itu kita tarik mundur apa yang harus kita lakukan hari ini.
*1. Hasil Akhir Bukan Lapangan Kerja, Tapi Kepemilikan Ekonomi*
Tuntutan 60% tenaga kerja lokal yang disuarakan DPRD Maluku dan Gema MBD itu benar, tapi itu baru pintu masuk. Keadilan tidak berhenti di menjadi pekerja.
Bayangkan garis finishnya: Di tahun 2040, anak-anak Tanimbar dan MBD bukan lagi hanya menjadi operator alat berat bersertifikat, tapi menjadi pemilik perusahaan kontraktor, pemilik jasa catering, pemilik perusahaan logistik, pemilik bengkel, pemilik cold storage yang disuplai dari laut mereka.
Jika hasil akhirnya adalah kepemilikan, maka pekerjaan hari ini bukan sekadar rekrutmen oleh Petrosea dan INPEX. Pekerjaan hari ini adalah:
a. *Pemetaan Kompetensi Terbalik:* Jangan tanya masyarakat bisa apa. Tanya proyek butuh apa dalam 5-10 tahun ke depan, lalu umumkan secara terbuka dan latih dari sekarang. INPEX, SKK Migas, Disnaker harus buka daftar kebutuhan skill 2027-2032 hari ini.
b. *Sertifikasi di Kampung, Bukan di Jawa:* Jika standar keselamatan menuntut sertifikasi, bawa lembaga sertifikasinya ke Saumlaki dan Tiakur. Jangan jadikan sertifikasi sebagai alasan untuk menolak orang lokal.
*2. Hasil Akhir Bukan Bagi Hasil, Tapi Nilai yang Tinggal*
Kita tahu potensi Dana Bagi Hasil (DBH) Masela bisa mencapai Rp 39 Triliun untuk Maluku. Tapi DBH adalah uang yang datang dari pusat. Keadilan ekonomi sejati adalah berapa banyak nilai ekonomi yang _tidak pernah pergi_ dari Maluku.
Prinsipnya: Jika gas keluar dari bumi Maluku, rantai nilainya harus berputar di Maluku.
Maka indikator keadilan yang harus kita buat bukan hanya PAD dan DBH, tapi:
*Lokal Content Index:* Berapa persen dari total belanja operasional Masela yang dibelanjakan di UMKM KKT-MBD? Berapa ton ikan, sayur, dan daging yang disuplai oleh petani dan nelayan lokal, bukan dari Surabaya?
Usulan Bupati MBD untuk Depo Pertamina dan cold storage besar di MBD adalah berpikir dari garis finish yang tepat. Itu bukan sekadar infrastruktur, itu adalah cara menahan nilai agar tidak bocor.
*3. Hasil Akhir Bukan Investasi Besar, Tapi Ketahanan yang Tersisa*
Investasi besar akan selesai. Puncak konstruksi 12.000 orang akan selesai. Lalu apa yang tersisa?
Jika kita mengukur dari akhir, maka proyek Masela harus meninggalkan tiga warisan permanen untuk KKT-MBD:
*a. Warisan Manusia:* Satu pusat vokasi migas berstandar internasional yang permanen di Tanimbar, bukan sekadar pelatihan 3 bulan.
*b. Warisan Infrastruktur:* Dermaga, jalan, listrik, dan internet yang dibangun untuk Masela harus didesain sejak awal untuk menjadi infrastruktur ekonomi rakyat setelah proyek selesai.
*c. Warisan Ekologi:* Masela adalah proyek pertama yang mengintegrasikan teknologi CCS (Carbon Capture Storage). Keadilan ekonomi harus berjalan bersama keadilan ekologi. Laut MBD dan KKT yang menjadi sumber hidup nelayan harus tetap lestari hingga akhir.
*Penutup: Mengubah Pertanyaan*
Mari kita hentikan bertanya: “Berapa persen jatah kita dari Masela?”
Mari kita mulai bertanya: “Seperti apa KKT dan MBD yang ingin kita lihat 20 tahun lagi karena adanya Masela, dan apa yang harus kita paksa terjadi hari ini agar itu terwujud?”
Keadilan bukan hadiah yang diberikan investor. Keadilan adalah desain yang kita paksa sejak awal dengan membayangkan hasil akhirnya.
Jika dari sekarang kita tidak mendesain garis finish itu bersama-sama – Pemprov, Pemkab KKT-MBD, DPRD, INPEX, TNI, Gereja, Masjid, Adat, Mahasiswa – maka 20 tahun lagi kita akan kembali menjadi penonton di tanah yang kaya.
Masela bukan tentang gas. Masela adalah tentang apakah Maluku Tenggara Raya akhirnya menjadi pemilik manfaat, bukan hanya pemilik sumber daya.
Kalwedo Ama yali Ina Nara upe meme… ❤️❤️❤️
Pattrick Rumtily


















