Sekolah Diliburkan akibat Kabut Asap, Yayasan Pelangi Maluku Salurkan Bahan MBG kepada Warga Rentan

Daerah52 views

AMBON — Kebijakan meliburkan sekolah akibat kabut asap di Kota Ambon berdampak pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk mengantisipasi bahan pangan yang telah disiapkan agar tidak terbuang sia-sia, Yayasan Pelangi Maluku selaku mitra penyelenggara MBG menyalurkan bahan makanan tersebut kepada warga rentan di sekitar lingkungan sekolah.

Direktur Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Karamoy, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa penyaluran bahan makanan dilakukan sebagai bentuk penanganan terhadap pengadaan pangan yang telah dilaksanakan sebelum keputusan pembelajaran jarak jauh diberlakukan.

http://demokrasimaluku.com/wp-content/uploads/2024/08/20240817_081242-6.jpg

Menurut Rosa, kondisi darurat seperti kabut asap maupun bencana alam lainnya memerlukan langkah antisipasi, terutama ketika pengadaan bahan makanan telah dilakukan, sementara kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan.

Ia menegaskan, penyedia yang telah membelanjakan bahan makanan sesuai pesanan tetap mendapatkan pembayaran atas pengadaan tersebut.

“Bagi penyedia yang sudah membelanjakan bahan sesuai pesanan, tagihannya tetap akan dibayarkan. Tidak ada kerugian bagi pihak penyedia,” jelas Rosa, Jumat (16/10/2026).

Rosa menjelaskan, berdasarkan surat edaran Gubernur yang ditindaklanjuti oleh KPPG dan TAWAS, pemberitahuan mengenai pelaksanaan pembelajaran jarak jauh telah disampaikan sejak sore hari sebelumnya.

Akibatnya, proses penyiapan makanan untuk program MBG hanya berlangsung hingga tahap pembersihan dan pengupasan bahan. Bahan-bahan tersebut belum sempat dimasak ketika kebijakan pembelajaran jarak jauh diberlakukan.

Untuk menghindari bahan pangan terbuang sia-sia, pihak yayasan mengambil langkah dengan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar dapur sekolah.

Namun, penyaluran tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap penyerahan harus disertai Berita Acara yang mencatat jumlah bahan makanan serta identitas penerima bantuan sebagai bentuk pertanggungjawaban.

” Bahan yang sudah diproses itu kami salurkan kepada warga yang sangat membutuhkan di lingkungan sekitar dapur sekolah. Penyalurannya pun tidak sembarangan, harus dibuatkan Berita Acara yang mencantumkan jumlah dan siapa penerimanya,” ungkapnya.

Penerima bantuan ditentukan melalui penilaian cepat oleh relawan dan pengelola di lokasi. Kelompok yang menjadi perhatian antara lain warga lanjut usia (lansia), janda, serta keluarga yang tergolong rentan secara sosial dan ekonomi.

Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan bahan pangan yang telah disiapkan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat, meskipun pelayanan MBG kepada siswa untuk sementara tidak dapat dilaksanakan akibat kondisi darurat.

Terkait kemungkinan pemberian makanan pengganti kepada siswa dengan cara mengantarkannya ke rumah atau menambah porsi pada hari sekolah berikutnya, Rosa menegaskan bahwa kebijakan tersebut belum diterapkan.

Ia menjelaskan bahwa program MBG difokuskan pada hari-hari sekolah efektif. Karena itu, pelayanan tidak berlangsung pada hari libur, akhir pekan, maupun tanggal merah. Ketentuan serupa juga berlaku ketika kegiatan sekolah dihentikan sementara akibat kondisi darurat.

Pelayanan MBG akan kembali berjalan setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali normal, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Sasaran utama MBG adalah pada hari-hari sekolah efektif. Pada hari libur, akhir pekan, maupun tanggal merah, pelayanan memang tidak berjalan. Demikian juga saat kondisi darurat, pelayanan akan kembali normal setelah sekolah beraktivitas seperti biasa,” pungkas Rosa.

Penanganan bahan pangan MBG selama masa libur darurat ini menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas pelaksanaan program sekaligus memastikan pengadaan yang telah dilakukan dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, penyaluran bahan makanan kepada warga rentan di sekitar sekolah menjadi alternatif pemanfaatan pangan yang telah disiapkan, sehingga tetap memberikan manfaat bagi masyarakat di tengah situasi kabut asap yang mengganggu aktivitas pendidikan di Kota Ambon.

tasya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *